Batu di pinggir jalan

Mereka merasa dirinya telah berada di puncak, lantas memutuskan untuk live for the moment.  Seperti Romawi, mereka pun asyik menikmati hidup.  Lupa dengan dakwah, lalai dengan amar ma’ruf nahi munkar.

Saya membicarakan semua rasa yang bisa kita rasakan.  Rasa manis, pahit, asam, panas, dingin, pegal, lega, senang, sedih, marah, terharu, sayang, benci, semangat, dan sebagainya.

Ini bukan spekulasi sufistik, bukan pula perandai-andaian yang tanpa juntrungan.  Pada kenyataannya, memang ada manusia yang secara bertahap kehilangan sensitifitas rasanya, meskipun (setahu saya) belum ada yang benar-benar mati rasa sebelum mati beneran.

Ini bukan perandai-andaian tanpa tujuan.  Kita memang mulai kehilangan rasa.  Paling tidak, rasa nikmatlah yang mulai lenyap.  Hal-hal yang dulu terasa nikmat kini mulai terasa biasa oleh sebagian orang.  Hal-hal yang dianggap sakral kini dianggap remeh.

Ummm.. Ktika knikmatan bgitu mudah didapat, sensitif rasa (syukur) akan semakin tumpul. Nikmat berlimpah = miskin syukur, rumus yg jelek :D


Bagaimana jika semua rasa itu perlahan-lahan menghilang, dan kita menjadi makhluk yang mati rasa, tak ubahnya seonggok batu di pinggir jalan?

Batu di pinggir jalan

Mereka merasa dirinya telah berada di puncak, lantas memutuskan untuk live for the moment.  Seperti Romawi, mereka pun asyik menikmati hidup.  Lupa dengan dakwah, lalai dengan amar ma’ruf nahi munkar.

Saya membicarakan semua rasa yang bisa kita rasakan.  Rasa manis, pahit, asam, panas, dingin, pegal, lega, senang, sedih, marah, terharu, sayang, benci, semangat, dan sebagainya.

Ini bukan spekulasi sufistik, bukan pula perandai-andaian yang tanpa juntrungan.  Pada kenyataannya, memang ada manusia yang secara bertahap kehilangan sensitifitas rasanya, meskipun (setahu saya) belum ada yang benar-benar mati rasa sebelum mati beneran.

Ini bukan perandai-andaian tanpa tujuan.  Kita memang mulai kehilangan rasa.  Paling tidak, rasa nikmatlah yang mulai lenyap.  Hal-hal yang dulu terasa nikmat kini mulai terasa biasa oleh sebagian orang.  Hal-hal yang dianggap sakral kini dianggap remeh.

Ummm.. Ktika knikmatan bgitu mudah didapat, sensitif rasa (syukur) akan semakin tumpul. Nikmat berlimpah = miskin syukur, rumus yg jelek :D


Bagaimana jika semua rasa itu perlahan-lahan menghilang, dan kita menjadi makhluk yang mati rasa, tak ubahnya seonggok batu di pinggir jalan?

Posted 2 years ago Notes

Notes:

About:

Following: